Lonceng Terbesar di Dunia
7 January 2005
KREMLIN atau ‘benteng’ dalam bahasa Indonesia, adalah satu landmark Moskow, pusat pemerintahan Rusia. Berbentuk segitiga tak beraturan, benteng ini mengelilingi tiga katedral besar di mana rakyat monarki Rusia kuno melangsungkan upacara penobatan, pernikahan, dan pemakaman Tsar mereka. Selain katedral-katedral, benteng ini juga memagari gedung presidium serta Senat Rusia. Konon kabarnya, meriam dan lonceng terbesar di dunia dapat dilihat di sana.
Kedua obyek ini tentu saja jadi salah satu tontonan menarik bagi turis-turis yang berkunjung. Sebagaimana lazimnya, manusia memang selalu tertarik pada segala hal yang ‘paling’ di dunia. Paling besar, paling kecil, paling pandai, paling cepat …Ironisnya, kabar lain juga datang membawa cerita bahwa meriam terbesar di dunia itu tak pernah sekalipun ditembakkan. Demikian pula dengan lonceng terbesar di dunia tadi: tak sekalipun ia pernah dibunyikan. Mengapa ironis? Karena itu berarti, meski mereka menyandang nama ‘paling besar’ di dunia, dan jadi sasaran kekaguman banyak orang, tak sekalipun mereka pernah memenuhi tujuan yang sebenarnya diamanatkan.
Boleh dibilang, dibanding dengan lonceng terbesar di dunia itu, lonceng ukuran biasa di gereja saya di Bogor dulu masih lebih berguna buat kehidupan umat manusia. Lonceng di gereja saya itu biasa saja, malah seperti layaknya banyak lonceng gereja lain, ia kelihatan berdebu dan kurang dirawat. Namun setiap minggu pagi, ia toh selalu berdentang mengingatkan mereka yang tinggal di sekitar untuk meluangkan waktu untuk berbakti pada yang Pencipta.
Saya pikir, setiap orang selalu dihadapkan pada persoalan serupa semasa hidupnya. Seringkali kemanusiaan dalam diri ini membuat kita berlari mengejar gelar ‘yang paling’ dalam lapangan kehidupan ini. Kita ingin menjadi ‘yang paling’ sukses, yang paling diakui, yang paling berkuasa. Dan dalam proses tersebut, kita lupa bahwa setiap kita diciptakan oleh Yang Maha, untuk satu tujuan yang khusus. Dari ‘lupa’ kemudian beranjak ke ‘tidak peduli’. Tak lagi kita peduli, bahwa Allah menenun setiap kita dengan satu rencana dalam benakNya.
Ah, betapa sayangnya jika satu saat nanti, ada yang memandang ke belakang dalam waktu, hanya untuk menyadari bahwa hidup yang telah susah payah diperjuangkan ini, berakhir seperti meriam atau lonceng terbesar di dunia … Meski besar, namun tak pernah memenuhi fungsi yang direncanakan baginya.
Dicomot dari weblog Laluwaktu