Selamat Tahun Baru Imlek 2556
8 February 2005

Tahun 2005 adalah tahun ketiga Imlek menjadi hari libur nasional. Setelah melewati perjuangan panjang, melelahkan dan mungkin menjengkelkan dari rekan-rekan bersuku Tionghoa dan juga bantuan dari segenap elemen masyarakat yang lain, Imlek dapat dirayakan secara bebas. Imlek mungkin sama dengan Lebaran bagi umat muslim atau Natal bagi umat kristiani, paling tidak itu artinya libur kerja bagi saya
Apalagi tahun ini disusul dengan Tahun Baru Islam. Jadi deh libur dua hari berturut-turut. Yah setiap bangsa, agama, dan suku mempunyai tradisinya masing-masing.
Saya tidak merayakan Imlek, paling hanya berkirim ucapan via sms atau telepon. Perjumpaan saya dengan teman-teman bersuku Tionghoa, maksudnya secara akrab, dimulai pada saat saya memasuki dunia kampus. Kampus saya waktu itu mayoritas siswanya bersuku Tionghoa. Terus terang saya kaget dengan keterbukaan dan penerimaan mereka pada saya, yang menurut orang sebagai orang pribumi. Saat itu saya memang sedikit menjaga jarak, bukannya rasis, alasan saya adalah karena saya belum mengenal budaya mereka. Menurut saya dengan mengenal sedikit dari budaya dan karakter mereka, paling tidak mereka akan lebih welcome. Ternyata saya salah, mereka adalah seperti suku-suku lain. Komunal dan mempunyai solidaritas tinggi.
Dalam hidup saya ternyata banyak kawan-kawan dan tokoh-tokoh Tionghoa yang menjadi inspirasi bagi saya. Saya akan menyebutkan beberapa diantaranya.
Semasa kuliah saya mempunyai beberapa teman akrab dari suku Tionghoa. Ricky salah satunya, anak Malang dengan logat Jawa yang kental. Lebih Jawa dari saya
Kami pernah satu kelas dan kemudian akrab karena mempunyai minat yang sama, gitar klasik. Dari dia saya belajar ketekunan. Ia selalu menekankan bahwa dalam belajar bermain gitar bakat adalah nomor dua. Ketekunan dan motivasi adalah yang pertama. Ia tidak sekadar bicara, setiap hari dia sudah mulai berlatih dari jam 5 pagi. Dan ketekunan ini membuahkan hasil sekarang, paling tidak saat ini ia mampu memainkan beberapa lagu Antonia Carlos Jobim(ia sudah mulai melirik jazz) dengan baik. Untuk ukuran saya bisa memainkan lagu Jobim adalah luar biasa. Inilah yang memotivasi saya belajar memainkan alat musik ini.
Saat itu saya juga berteman dengan David. Berbeda dengan Ricky yang berasal dari keluarga berada, keluarga David adalah keluarga sederhana. Dengan empat orang anak dan ayah-ibu sebagai penjual mie ayam maka keluarga ini dituntut untuk hidup serba ngirit. Apalagi hidup di Jakarta. Meskipun begitu ketiga kakak David adalah jebolan perguruan tinggi. Walaupun sederhana, David selalu berpenampilan rapi, klimis, tidak merasa minder dan mempunyai keinginan kuat untuk melanjutkan kuliah diluar negeri. Dan dia melakukannya sekarang. Entah bagaimana dia melakukannya, yang pasti keadaan yang ada tidak membatasinya untuk maju. Jadi teringat saat dia harus cuti kuliah karena keterbatasan biaya, sesuatu yang mungkin akan menyurutkan semangat belajar bagi segelintir orang tapi tidak untuk David. Bagi saya David memang beda.
Saya juga mengenal Bapak Eka Darmaputera. Yang ini adalah seorang pendeta namun saya tidak pernah bertemu beliau secara langsung. Hanya mengenalnya melalui buku-buku kecilnya yang diterbitkan oleh Yayasan Gloria dan BPK Gunung Mulia. Apa yang bisa saya katakan tentang beliau? Rasanya sudah cukup banyak pujian untuk beliau. Low profile, high quality.
Pak Eka pandai menyederhanakan bahasa teologi yang sulit menjadi lebih mudah dimengerti bagi awam(seperti saya) tanpa kehilangan maknanya. Terkadang pesan-pesannya terasa keras, tajam bahkan menusuk hati. Tapi dari situ tergambar kejernihan hati, kejujuran dan kemampuan beliau menempatkan iman Kristen pada realita. Secara mudah Kekristenan yang membumi tanpa kehilangan identitasnya. Secara pribadi saya sangat terberkati oleh tulisan-tulisannya dan semoga dalam kelemahan beliau saat ini, Tuhan tetap memakai beliau untuk melayani dan kuasa Tuhan semakin nyata dalam hidup Bapak.
Saya juga mengenal Bapak Andar Ismail. Yang ini adalah juga seorang pendeta, dan saya hanya mengenalnya dari buku-buku Seri Selamat yang diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia. Tulisan-tulisan beliau disampaikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti sehingga tidak heran menjadi buku favorit bagi banyak umat kristiani di Indonesia, juga bagi keluarga saya. Setiap buku terdiri dari 33 bab dan membahas suatu topik tertentu. Kiranya Tuhan terus senantiasa memakai Bapak untuk melayani.
Selamat ber-Imlek rekan-rekan, Pak dan Bu semua! Kepada Kwik Kian Gie, Arief Budiman, Christianto Wibisono, Martha Tilaar, Rudy Hartono, Jaya Suprana, Yohannes Surya, Hermansyah, Romo Dharmaatmaja, William Soeryadjaya, rekan-rekan Binus MAT 97, Buce Lee, Joshua Suherman dan Tina Toon…..kalian telah memberi warna bagi bangsa ini!
GONG XI FA CAY & XI NIAN CIN PU! SELAMAT TAHUN BARU HIJRIAH 1426 H!