Normalkah Saya?
15 December 2005
Karena capek dan mengantuk, malam kemarin saya pulang kuliah dengan bis. Motor saya tinggal di kantor.
Untunglah dapat tempat duduk. Seorang bapak setengah baya tersenyum ketika melihat saya duduk disampingnya. Hmm ramah sekali Bapak ini.
“Adik sudah berkeluarga?”, tanyanya beberapa saat setelah kami terlibat percakapan sebelumnya.
“Belum”
“Umur adik berapa?”
“27 Pak”
“Wah sayang sekali belum berkeluarga……” dan si Bapak pun melanjutkan dengan wejangan yang baru selesai ketika saya harus turun di Slipi.
Ini wejangan yang kesekian bagi saya dengan tema yang sama. Saya jadi membatin apa yang salah dengan saya
kalau begitu?
Sebagian orang [menurut saya] melihat hidup ini sebagai garis lurus dengan beberapa periode didalamnya. Dalam setiap periode ada pencapaian tertentu. Maksud saya begini: beberapa orang melihat hidup adalah sebuah perjalanan dengan mematok target tertentu. Misal diumur 6 tahun kita harus sudah masuk sekolah (SD), umur 12 lulus, dan ketika umur 18 mulai masuk kuliah. Lalu selesai, dapat kerja dan sekitar umur 25 menikah, punya anak, dan akhirnya umur 50-an sudah menjadi kakek. Jika ada target yang terlewat maka yang muncul adalah pertanyaan “apa yang salah dengan saya”
Apakah salah pandangan ini? Sekali-kali tidak! Dan memang sistem berjalan seperti ini selama ini. Hanya saja
kadang pandangan ini tidak selalu relevan pada setiap orang. Ya, tidak semua orang mempunyai kehidupan yang berjalan lurus seperti diatas. Beberapa mungkin tidak naik kelas. Tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan sekolah. Belum mendapatkan pasangan hidup ketika usia menginjak 30. Dan hal-hal lainnya yang mungkin diluar kemampuan dia.
Hidup terkadang tidaklah selalu “lurus”. Kadang berbelok. Bahkan kadang memutar. Ketika kondisi ini terjadi pada beberapa orang maka atribut kurang enak akan melekat padanya. Dianggap tidak wajar, terlambat atau tidak “normal”. Sebutannya pun tidak mengenakan: perawan tua, bodoh dan lain sebaginya. Alhasil yang bersangkutan menjadi minder dan rendah diri.
Bukankah hidup harus selalu maju? Ya, [bagi saya] hidup memang harus berkembang dan maju. Sayang opini masyarakat melihat orang lain yang tidak “normal” ini sebagai sesuatu yang berbeda. Dan diimbuhi dengan atribut diatas. Wah sungguh sial banget orang yang “tidak normal” ini.
Jika melihat diri saya sendiri target diatas hanya tercapai ketika saya lulus STM. Setelah itu semua diluar rencana. Kuliah molor dan sampai sekarang masih menjomblo. Jadi boro-boro berkeluarga!
Tapi banyak hal positif yang saya dapatkan ketika kuliah saya molor. Dan itu berandil besar dalam membentuk saya seperti sekarang ini.
Terkadang melihat dengan pandangan yang tidak umum [menurut saya] perlu juga. Salah satunya bisa mencoba berempati dengan mereka.
December 17th, 2005 at 11:30 am
you know what……i feel the same way, people tend to expect having a normal life phases,but you know what, life is not like that….live is a journey, some times it get thaught it dont always works as we plant it to works…
December 18th, 2005 at 10:41 am
Hai Mas…. wah aku baru kunjungi situs ini loh dan komentar aku “ternyata koe bisa bahkan hebat juga loh dalam hal menulis” kalau komentar yang lain nanti deh ya lagi buru-buru nih. thanks.
December 19th, 2005 at 12:20 pm
O jadi belum juga nih
. Kenapa ? Nunggu apa lagi sih Ndy ?
Jadi begini dik Andy, selama you menikmati hidup ini, tidak ada yang mesti dikhawatirkan kok. Inget, bahwa menikah-pun bukan sesuatu yang mudah. Menikah tidak selalu sama dengan kebahagiaan. Ingat kata-kata saya : Sesudah menikah, anda akan merindukan kesendirian anda, dalam hal tertentu. Anyway, nice to read ur article lagi..
December 19th, 2005 at 1:08 pm
Hanya yang sudah menikah yang bisa berkomentar seperti ini Mas
Btw apa kabar?
December 20th, 2005 at 9:10 am
ndy,
aku sudah menikah. jadi boleh kasih komentar kepada yang belum menikah karena aku sudah kan?
menurutku, hidup itu selalu berputar, kadang berbelok, kadang lurus dan menegangkan, apalagi kalo ngebut. lo, niru ya?
karena berputar, jadi kita anggap, dulu usia segini harus nikah, sekarang sebenarnya kita bisa berpikir bebas, usia nikah tidak tergantung batasan, okay ya ndy?
peace
karena hidup juga berbelok, jadi kita anggap, suatu waktu kita jalan ketemu jalan ke kiri dan ke kanan, kemana kita memilih, dua-duanya satu tujuan, tapi kita tahu kita ndak bisa menjalani dua-duanya, maka tiadalah penyesalan bagi yg memilih nikah cepet ato nikah lambat, nikmati aja ndy, peace juga toh
) setuju ama mas ardi
karena hidup itu juga jalan yg lurus, yg bisa diajak ngebut, apalagi kalo ngebuttttt, wadooouuwww…. ternyata tidak ada yg menyamai ama hidupnya orang yg sudah nikah ndy, tiba2 aja istri hamil, eh udah tiga bulan, eh calon anak di-USG udah gerak2, eh eh… tiba2 udah gede kayak mas ardi, peace banget toh ndy
)
jadi, seperti orang yg suka nonton film ndy, pilih film kesukaanmu. aku suka drama, yg biasanya bertanda menang festival ini itu pasti kubeli, kalo ada yg suka film gasak gusuk ya ndak kularang, jad hidup ini emang peace toh ndy :p
December 20th, 2005 at 10:14 am
Baik pak Andy. Ah Arif kan baru kemarin menikah
. Anyway, good point kok Rif.. Eh, bukan berarti menikah itu tidak ada enaknya lho ndy.. Sesudah menikah, anda akan merindukan kesendirian anda, dalam hal tertentu. Dalam hal yang lain, ya pasti ada enaknya dong menikah..