Iman: Pencarian Tanpa Akhir
16 January 2006
Tulisan dibawah ini pasti membingungkan. Maafkan saya.
Bagi yang tidak percaya, iman adalah kemustahilan. Bagi saya iman adalah sebuah misteri yang tidak dapat dijelaskan. Sesuatu yang aneh. Ia tumbuh ketika seharusnya mati; dan layu, kalau tidak disebut mati, justru ketika seharusnya tumbuh. Beberapa pengalaman mengajarkan saya, iman tumbuh dan berkembang ketika keadaan terasa menekan. Saat-saat seperti ketidakpastian terasa lebih terasa. Saat-saat ketika janji-janji tanpa bukti yang nyata didepan mata. Ketika muncul cahaya, walaupun remang-remang, akan digumuli dan menimbulkan kepercayaan. Dan imanpun berkembang dan tetap bertahan ketika harapan tidak menjadi kenyataan.
Tetapi seringkali yang sebaliknya juga sering terjadi. Ketika keadaan penuh dengan kepastian, ketika bukti-bukti tidak perlu dipertanyakan dan janji berbuah kenyataan, imanpun mengendur, kemudian beranjak menjauh seiring munculnya keangkuhan. Ketika keadaan ini terjadi, saya biasanya berlaku nyinyir terhadap setiap bentuk testimonial iman seseorang. Terkadang saya menyerang dengan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan yang pada akhirnya hanya menunjukkan betapa sebenarnya saya merindukan bentuk iman seperti mereka.
Iman juga seringkali membuat frustasi. Frustasi karena untuk mempercayai bahwa Tuhan itu ada saya jelas memerlukan iman, syarat utama bagi sebuah hubungan. Tetapi berhubungan dengan Tuhan yang tidak kasat mata bukanlah sesuatu yang mudah. Ketika Anda percaya, keraguan seringkali menyelinap masuk, meracuni dan membuat saya seolah-olah berada didalam pendulum. Terombang ambing diantara dua kutub. Percaya, tidak percaya, kembali ke percaya dan berakhir — entah dimana? Seperti apa yang saya rasakan sekarang ini. Saya terombang-ambing antara percaya dan tidak percaya ketika seharusnya saya percaya.
Untuk mempercayai bahwa Allah setia pada janji-Nya dan memegang kendali dalam hidup saya, rasanya juga sangat sulit. Mempercayai yang kelihatan saja terasa sulit bagaimana mungkin mempercayai sesuatu yang tidak kelihatan sedang memegang kendali? Ego ini terasa susah untuk dilepaskan. Keangkuhan diri telah menjadi perangkap. Membuatku mengembara kesana-kemari tanpa tujuan yang pasti. Hanya memulai hari-hari sebagai rutinitas.
Ingin rasanya mengerem keangkuhan agar berhenti berlari dan mulai mencari dan menerima apa adanya diri ini. Keinginan hati terdalam kembali pulang ke Rumah yang dahulu menjadi teman setia di saat-saat kelam,
dimana Ia akan dengan senang hati menerimaku dan memberikan apa yang kudambakan, kedamaian di hati.
Tetapi sesuatu dalam diri ini pun selalu berusaha memberontak, dan menjauh.
Iman tampaknya harus diminta setiap hari, sedikit demi sedikit.
January 16th, 2006 at 10:06 am
Tuhan, setahu saya, Andy tahu kadar iman saya
, tahu konsekuensi menciptakan manusia dengan otak, yaitu ada kemungkinan manusia pada satu titik tidak akan mengakui-Nya, sebagai yang menciptakan-Nya. Tapi saya kok masih yakin, Tuhan maha bijaksana untuk itu. Kalau ngga, kenapa kita di biarkan merdeka berfikir ?
January 18th, 2006 at 12:12 pm
hehe.. menurutku engga membingungkan kok tulisannya, ya begitu itulah iman… kalo menurutku sih bukan pencarian tanpa akhir, tapi perjalanan tanpa akhir untuk hidup dalam iman. Salam kenal Mas
January 25th, 2006 at 1:03 am
kali ini tulisan nya agak membingungkan aku………soalnya mesti baca 3X utk dapat memahami………aku setuju sama kenz, iman adalah perjalanan tanpa akhir. TUHAN adalah sesuatu yg TDK akan mungkin bisa dipahami oleh otak. IA hanya bisa dirasakan oleh hati, dipahami oleh IMAN dan diwujudkan oleh tindakan kita terhadap sesama. terkadang kita terlalu sibuk mencari dan memahami keberadaan tuhan, padahal tuhan dapat kita temui setiap hari,setiap saat dan dimana saja……….