Cara Barnabas
20 February 2006
Anda dapat mengalami kehidupan penuh mukjizat bersama Tuhan. Banyak buku, seminar dan konferensi menghubungkan janji ini dengan berkat yang Tuhan berikan. Berkat dianggap sebagai tanda perkenan dan kasih-Nya. Pertimbangkan ungkapan-ungkapan berikut ini, Anda mungkin sering mendengarnya:
“Jadikan Tuhan bagian dari hidup Anda sehari-hari-dan Ia akan memberkati Anda setiap hari”.
“Anda dapat melihat Tuhan bekerja dalam hidup Anda, hal ini akan terbukti nyata dari segala sesuatu yang diberikan-Nya kepada Anda”

Apakah netode Who Wants to be a Millionaire? dalam mengenal Tuhan ini lebih berfokus pada pemberian atau si Pemberinya? Apakah tantangan untuk mempercayai Tuhan demi berkat yang lebih besar itu lebih memusatkan perhatian kepada Tuhan atau pada hal-hal yang diperbuat-Nya untuk kita?
Pandangan bahwa pemberian menandakan diterimanya seseorang dalam suatu hubungan menjadi suatu tema dalam sebuah produksi film tahun 1975 yang berjudul The Man Who Would Be King. Film berdasarkan cerita karya Rudyard Kipling ini mengisahkan kehidupan Danny Dravor dan Peachy Carnehan, dua tentara bayaran berkebangsaan Inggris yang pergi mengadu nasib ke sebuah negeri antah berantah bernama Kafiristan. Disana mereka menemukan sebuah peradaban yang belum tersentuh dunia luar, sebuah kerajaan yang berlimpah dengan harta karun emas. Penduduk asli negeri itu langsung memproklamirkan kedua orang itu sebagai dewa dan menobatkan Danny sebagai raja. Mereka menghujani Danny dengan berbagai hadiah dan mengabulkan semua harapan serta keinginannya jauh melebihi impiannya. Danny dan Peachy tentu berharap keadaan mereka akan tetap seperti ini selamanya, namun penduduk Kafiristan sadar mereka telah tertipu dan akhirnya membalas dendam.
Kita juga sering berperilaku seperti Danny yang ingin menjadi raja dalam cara kita menghampiri Tuhan. Kita ingin hidup di negeri yang menyediakan pemberian dan berkat yang kita minta. Kita memandang berkat melimpah sebagai tanda bahwa kita masih disukai Tuhan dan manusia.
Sesungguhnya kehidupan rohani yang dijalani dengan motivasi “ingin menjadi raja” itu menciptakan lubang-lubang dalam landasan iman kita. Bagitu kita berusaha mencari keuntungan melalui hidup kerohanian, konsep kita tentang Tuhan akan berubah. Tuhan tidak lagi menjadi pusat kehidupan. Ia menjadi sekadar suatu kekuatan, suatu kuasa yang seperti mesin melakukan segala sesuatu yang kita minta. Sebaliknya seperti yang dikatakan C.S Lewis: “Tuhan ada bukan demi kepentingan manusia. Dan manusia ada bukan demi kepentingannya sendiri.” Apabila kita berkeyakinan bahwa misi Tuhan semata-mata adalah melayani kita berarti kita telah memasukkan Tuhan kedalam lampu Aladin dan menamai-Nya jin.
Tuhan tidak selalu menjawab pertanyaan kita dengan cara yang kita harapkan. Dan ketika kita melihat kedudukan kita dalam hubungan dengan Tuhan dan manusia lalu merenungkan cara kita berhubungan dengan-Nya, bukan saja usaha pencarian berkat itu akan membuat teman, tetangga, dan rekan kerja mempertanyakan motivasi kita, tetapi bagaimana pula pandangan orang-orang yang selama ini meminta berkat kasat mata dari Tuhan, dan sayangnya ia tidak menerimanya? Mereka, orang-orang yang kecewa karena janji berkat itu tidak pernah terwujud dalam kehidupannya, mungkin akhirnya akan merasa seperti Danny Dravor. Ditinggalkan. (Dalam film tersebut, Danny ditinggalkan oleh semua penduduk yang pernah diperintahnya. Peachy, satu-satunya orang yang masih bersimpati padanya, hanya dapat memandangi tanpa daya ketika Danny dipaksa menapaki sebuah titian kecil yang membentang diatas jurang lalu didorong jatuh ke dalamnya)
Penulis buku-buku rohani, Gary Thomas menyatakan kita telah menjadi generasi yang senantiasa mencari kemudahan, kenikmatan dan berkat. Benarkah itu semua yang kita cari? Apakah Tuhan hadir dalam hidup kita hanya ketika Ia melakukan perkara-perkara spektakuler dan menciptakan peristiwa-peristiwa besar? Atau mungkinkah Ia justru bekerja melalui cara yang terbalik, perhatian-Nya justru tertuju pada hal-hal kecil dan orang-orang kebanyakan, orang-orang yang tidak penting dan mereka yang perlu diberi kesempatan sekali lagi? Memang aneh karena tampaknya Yesus justru lebih menyukai orang-orang yang demikian. Dan yang lebih aneh lagi, justru cara inilah yang Yesus tunjukkan sebagai jalan menuju berkat. Berkat ini, sebagaimana yang ditulis dalam buku ini, lebih baik daripada semua yang pernah dijanjikan oleh mereka yang mengatakan kita dapat memiliki semuanya itu seketika.
Ada satu tokoh dalam Perjanjian Baru yang menyukai berkat Tuhan tetapi memperlihatkan rasa syukurnya atas pemeliharaan Tuhan dengan mengasihi orang lain, terutama mereka yang terabaikan dan kurang beruntung nasibnya. Nama tokoh itu adalah Barnabas. Siapakah dia? “Oh Barnabas—si pemberontak itu, teroris yang nyawanya ditukar dengan Yesus. “Bukan itu Barabas”. Barnabas adalah seorang rasul dari gereja mula-mula. Dia dikenal sebagai pemberi semangat, selalu menginginkan orang lain tetap setia kepada Tuhan dengan segenap hati mereka.
Nama Barnabas sebenarnya berarti “anak laki-laki yang memberi semangat”, dan memang itulah yang dilakukannya, ia selalu memberi semangat. Tidak ada misi lain yang lebih menakjubkan daripada yang dilakukan Barnabas ketika ia naik ke pentas Perjanjian Baru untuk menolong dua calon tokoh rohani besar, Paulus dan Markus. Keduanya ditentang oleh jemaat, mengalami kegagalan dan perlu diberi dorongan semangat agar tidak menyerah. Barnabas membela mereka.
Apa yang Barnabas peroleh dari perannya sebagai pemberi semangat? Dalam Ucapan Bahagia Yesus menjabarkan hal-hal yang akan dialami orang seperti Barnabas, yang dikatakan sebagai “orang baik”, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Yesus menyatakan dengan jelas bahwa orang yang suci dan murah hatinya akan melihat dan mengalami Allah—seperti halnya Barnabas, yang selalu berusaha menyemangati orang lain dan menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang menderita. Orang ini berbahagia (diberkati), orang yang cepat disukai Allah. Dialah orang yang mengalami berkat-berkat Allah, orang yang akan memperoleh harta surgawi.
Anda berdoa supaya diberkati? Atau berdoa agar menjadi berkat? Memang mudah untuk percaya bahwa cara terbaik untuk memperoleh sesuatu adalah dengan memintanya, tetapi Anda mungkin terkejut ketika mengetahui ketika mengetahui dari buku ini cara yang sesungguhnya dikehendaki Tuhan agar “kita menerima berkat”. Cara terbaik untuk menerima dari Tuhan bisa jadi hanya dengan memberi mereka yang memerlukan pertolongan—seperti yang dilakukan Barnabas. Ini adalah sebuah pilihan yang tersedia bagi kita semua. Setiap hari.
Keterangan tentang buku ini:
- Judul: Cara Barnabas: Cara Tak Terduga Menuju Tuhan
- Pengarang: John Sloan
- Penerbit (edisi Indonesia): Immanuel Publishing House
- Tahun penerbitan: 2004
- Jumlah halaman: 142