"Success is peace of mind, which is a direct result of self-satisfaction in knowing you did your best to become the best that you are capable of becoming"
John Wooden

Shevchenko, Chelsea, Madrid dan Manchester United

29 May 2006

Sejak bergabung di AC Milan (Milan), saya mulai mengenalnya dan akhirnya jatuh hati. Apalagi ditambah bisa melihat aksinya minimal sebulan sekali di televisi. Dengan kondisi tim yang saat itu kurang kompetitif seperti sekarang, ia turut membantu Milan meraih Scudetto. Enam tahun terakhir ia sudah identik dengan Milan, paling tidak bagi saya. Ketika dua bulan yang lalu ia membantah akan hengkang ke Inggris, hati ini merasa yakin tak mungkin ia berubah pendirian. Sekali lagi ia sudah begitu identik dengan Milan.

Tapi hati manusia siapa yang tahu. Goyangan Chelsea — siapa lagi tim Inggris yang bisa berbuat seperti ini? — dan alasan keluarga mengubah pendiriannya. Tawaran perpanjangan kontrak dari Milan ditolak dan negosiasi dengan Chelsea pun dibuka. Suatu saat mungkin Shevchenko akan bermain lagi di San Siro, kandang Milan, tetapi berbaju Chelsea.

Dalam beberapa tahun terakhir Chelsea adalah fenomena baru. Tim yang sedang banyak duit ini adalah momok bagi setiap pesaingnya di bursa transfer. “Penawaran tim lain menjadi tidak berlaku ketika Chelsea ikut serta dalam perburuan pemain”, kritik Wenger, pelatih Arsenal, menanggapi langkah Chelsea dalam mendapatkan pemain. Wenger pantas kesal, beberapa buruannya lepas disambar Chelsea. Dengan uang yang begitu banyak Chelsea menawar buruannya dengan harga yang, seringkali, jauh lebih tinggi dibanding tim lainnya. Alhasil banyak tim-tim yang tidak mampu mempertahankan pemainnya ketika Chelsea datang mendekati. Yang terkini adalah ketika Michael Ballack, kapten dan bintang Jerman, terkesan dilepaskan begitu saja oleh Muenchen ketika Chelsea datang mendekatinya. Muenchen memang terkesan ogah-ogahan untuk mempertahankannya. Mereka sadar benar fakta ini: Ballack butuh tantangan baru dan tentu saja lebih banyak uang. Dan Chelsea memiliki keduanya.

Sheva: mungkin akan berbaju Chelsea saat melawan Milan

Langkah Chelsea mirip dengan Milan di era pertengahan 90-an atau Real Madrid (Madrid) saat ini. Untuk meraih prestasi instan Chelsea menempuh jalan tol. The Blues, demikian julukan Chelsea, biasa membeli pemain-pemain top setiap tahun, seperti Didier Drogba, Michael Essien dan Michael Ballack. Shevchenko saya kira segera menyusul. Hasilnya? Mereka beruntung menggaet pelatih yang tepat, Maurinho. Maurinho mampu meracik para pemain bintangnya dan meraih prestasi bagus dalam dua tahun terakhir. Omongannya sumbut (bahasa Jawa yang kurang lebih artinya sesuai) dengan prestasinya.

Berkumpulnya pemain bintang tidak kemudian menjamin prestasi hebat. Inilah yang dialami Madrid dalam tiga tahun terakhir. Kendati, kasarnya, mereka tinggal mencomot pemain bintang yang mereka maui, mereka paceklik gelar dalam tiga tahun terakhir. Tak heran memang, mengelola pemain bintang bukanlah pekerjaan gampang. Setiap pemain memiliki ego yang tinggi. Karena merasa sebagai bintang kerap mereka meminta dinomorsatukan. Terjadilah berbenturan kepentingan. Sayang sosok seperti Maurinho yang mampu menekan ego para pemainnya tidak ada dalam diri pelatih Madrid sekarang. Di Chelsea kerap kali Maurinho lebih banyak menjadi buah bibir dibanding para pemainnya.

Bertolak belakang dengan langkah Chelsea dan Madrid adalah Manchester United (MU), Ajax dan Arsenal. MU melakukan pengamatan terhadap pemain-pemain yang belum populer dan memiliki talenta hebat, membelinya dengan harga pantas dan memolesnya menjadi pemain kaliber dunia. Pembelian Van Nistelrooy dan Christiano Ronaldo contohnya. Dan pemain-pemain muda berbakat mereka masukkan dalam MU Soccer School, ditempa dan dengan kerja keras lahirlah pemain-pemain seperti Paul Scholes dan David Beckham. Keuntungannya adalah karena sejak muda mereka bermain bersama, pengertian diantara mereka telah terbina. Tentu saja hal ini membuat pelatih menjadi lebih mudah dalam melakukan pengaturan komposisi pemain. Hasilnya dalam sepuluh tahun terakhir prestasi mereka begitu fenomenal. Satu diantaranya adalah merebut Piala Champion. Hebatnya lagi kinerja keuangan mereka ternyata lebih baik dari Madrid. Apalagi ditambah kemampuan David Beckham yang juga piawai meningkatkan image dirinya. Klop sudah! Betul memboyong pemain bintang oleh Madrid juga berarti memboyong para penggemarnya. Dan berimbas pula kepada meningkatnya penjualan merchandise. Tapi toh tetap saja Madrid sulit menandingi kinerja keuangan bagus yang diraih MU.

Sepakbola profesional saat ini sudah sangat kapitalis. Siapa yang berduit dia bisa membeli pemain yang diinginkannya. Sayang memang langkah yang ditempuh MU dan Ajax sudah sangat jarang dilakukan oleh klub-klub besar. Mereka lebih memilih membeli pemain-pemain tenar daripada membinanya sejak dini.

Kembali ke Milan, agaknya sebentar lagi saya tidak akan melihat aksi Shevchenko berbaju Milan. Bagi Milan ini jelas kehilangan yang besar. Ngomong-ngomong siapa pengganti yang sepadan? Fernando Torres, Samuel Eto’o, Van Nistelrooy atau Ibrahimovic? Sheva adalah tipikal striker yang juga pengumpan. Dan peran ini dilakoni dengan baik oleh Ibrahimovic di Juventus atau Thiery Henry di Arsenal. Yang terakhir sudah menyatakan setia kepada Arsenal, maka Ibrahimovic menjadi kandidat terkuat. Bagaimana kalau nama Totti atau Raul Gonzalez dikedepankan? Kendati Totti adalah maskot AS Roma dan Raul adalah maskot Madrid, tapi dengan iming-iming uang lebih siapa yang mampu bertahan? Ini hanya pengandai-andaian saya saja.

Ciao Sheva!

Category: Sports | | Top

2 komentar untuk “Shevchenko, Chelsea, Madrid dan Manchester United”

  1. johanes:

    Met ultah ya….. Tuhan memberkati

  2. dominggus:

    Mas Jo,

    Makasih ya. Semoga tetap setia dalam pelayanan Mas Jo. GBU!

Isi komentar



Fatal error: Call to undefined function: wp_footer() in /home/sloki/user/t76050/sites/dominggus.com/www/wp-content/themes/andreas-02/footer.php on line 6