"Success is peace of mind, which is a direct result of self-satisfaction in knowing you did your best to become the best that you are capable of becoming"
John Wooden

Shevchenko, Chelsea, Madrid dan Manchester United

29 May 2006

Sejak bergabung di AC Milan (Milan), saya mulai mengenalnya dan akhirnya jatuh hati. Apalagi ditambah bisa melihat aksinya minimal sebulan sekali di televisi. Dengan kondisi tim yang saat itu kurang kompetitif seperti sekarang, ia turut membantu Milan meraih Scudetto. Enam tahun terakhir ia sudah identik dengan Milan, paling tidak bagi saya. Ketika dua bulan yang lalu ia membantah akan hengkang ke Inggris, hati ini merasa yakin tak mungkin ia berubah pendirian. Sekali lagi ia sudah begitu identik dengan Milan.

Tapi hati manusia siapa yang tahu. Goyangan Chelsea — siapa lagi tim Inggris yang bisa berbuat seperti ini? — dan alasan keluarga mengubah pendiriannya. Tawaran perpanjangan kontrak dari Milan ditolak dan negosiasi dengan Chelsea pun dibuka. Suatu saat mungkin Shevchenko akan bermain lagi di San Siro, kandang Milan, tetapi berbaju Chelsea.

Read the rest story »

Category: Sports | Top | 2 comments »

Bajaj

27 May 2006

Peristiwa ini kira-kira terjadi dua minggu yang lalu, sejak tanggal posting ini, saat kantor masih di sekitar Bunderan HI. Ada rasa kasihan tapi sedikit menggelikan, dan harus saya akui, saya sedikit puas. Jahat memang.

Berawal dari pulang kantor, kira-kira jam 8 malam. Ketika akan mendekati lampu merah flyover Slipi, karena lampu menyala merah, saya menurunkan kecepatan sepeda motor saya. Tiba-tiba sebuah bajaj memotong jalur saya dan tanpa perasaan bersalah menyerobot jalur saya. Pun berhenti didepan saya saat di lampu merah seraya, seperti biasanya, memberi hadiah asap.

Karena tidak tahan dengan asap yang keluar saya mengklakson si bajaj untuk memberi jalan agar paling tidak saya tidak tepat di belakangnya. Tiba-tiba si bajaj berjalan dan diujung perempatan seorang polisi dengan sigap mencegat si bajaj ini.

Saya baru ngeh, rupanya si bajaj sedari tadi berhenti didepan garis zebra cross dan tidak dapat melihat status lampu merah. Jadi klakson motor saya dianggap sebagai pertanda bahwa warna lampu sudah berganti dan dia diminta untuk berjalan karena menghalangi jalan.

Sedikit geli walaupun ujung-ujungnya kasihan ketika melihat dia berurusan dengan Pak Polisi. Tapi inilah potret Jakarta, berhenti di lampu merah seenaknya padahal hal ini seringkali membahayakan dirinya sendiri.

Bersabar, bisa jadi ini bukan sikap yang paling menentukan dalam hidup seseorang. Hal-hal tertentu seperti berhasil atau gagal, bahagia atau kecewa, memang tak selalu berkaitan langsung dengan sikap sabar. Tetapi hampir dapat dipastikan, ketidaksabaran bisa mempersulit diri sendiri.


Kantor Boyongan

27 May 2006

Mulai pertengahan Mei ini lokasi kantor saya pindah. Dari sekitar Bunderan HI yang strategis bin hijau itu menuju ke selatan Jakarta yang, alamak, aksesnya susah, jauh dan macet. Bagi sebagian pegawai yang lokasi rumahnya bakalan jauh, ini jelas bukan keputusan populer. Seorang teman yang rumahnya di daerah Cengkareng hanya bisa mengeluh seraya mempertimbangkan mencari kantor baru.

Berbagai alasan yang mengharuskan pindah dikemukakan. Dari alasan seringnya terjadi kemacetan di Bunderan HI,
demonstrasi, sampai masalah keamanan karena dekatnya lokasi gedung dengan Kedutaan Inggris. Keamanan? Bukannya gedung-gedung di sekitar kedutaan adalah gedung yang paling diperketat penjagaannya? Macet? Akses ke kantor baru tidak kalah macet. Entahlah, saya yang bodoh ini tidak bisa mengira-ngira seberapa signifikan sih alasan diatas terhadap kinerja perusahaan. Bisa jadi ujung-ujungnya adalah alasan ekonomi.

Keputusan yang menyangkut kepentingan banyak orang seringkali adalah keputusan yang sulit. Tidak semua orang bisa disenangkan. Jika bisa disosialisasikan dengan baik kepada karyawan dan sembari penyediaan kompensasi misalnya fasilitas, tentu, akan lebih mudah dimaklumi karyawan.

Saya, yang termasuk ‘dirugikan’ dengan keputusan ini, sekarang cuma bisa menjalani. Apalah saya ini, cuma prajurit. Dan prajurit nurut sama jenderal. Tak apalah toh saya bisa berandai-andai siapa tahu CIO perusahaan minyak di gedung sebelah
berkenan melirik saya sebagai karyawannya. Maunya :-)

Gambar dibawah ini adalah suasana suatu senja yang bisa saya ambil dari atas kantor lama…

Suatu Senja di Atas Kantor Lama


Once Upon a Time in Saturday Morning

15 March 2006

Dalam enam bulan terakhir, rasanya Sabtu pagi adalah saat yang paling saya tunggu. Saat dimana saya bisa berlari kesana-kemari mengejar bola. Ya Sabtu pagi selama ini adalah saatnya bermain bola.

Seorang penduduk di dekat saya tinggal, berbaik hati menyediakan sebidang tanahnya untuk dijadikan lapangan sepakbola mini. Mungkin sebesar lapangan futsal dan paling ideal jika satu tim berisi tujuh pemain termasuk kiper. Lebih dari itu, lapangan terasa sangat sempit. Di Jakarta sebidang tanah seperti ini adalah anugerah langka.

Di setiap sisi panjang lapangan ada tembok dengan rumah penduduk disebelahnya. Jadi jika ada bola keluar melewati tembok pembatas, terpaksa harus naik keatas. Seperti gambar dibawah ini:

Naek-naek ke genteng orang!

Saya tidak terlahir dengan bakat bermain bola. Ketika diadakan seleksi pemilihan pemain utama
dalam rangka kompetisi lokal, saya sudah sangat yakin hanya akan menempati posisi pemain cadangan. Dan itulah yang terjadi. Padahal pesaing saya adalah bapak-bapak dengan rata-rata usia diatas 35 :) Yah apa daya walaupun relatif lebih muda, napas dan teknik saya masih jauh dari mereka. Gak apa, bisa bermain sudah cukup memuaskan saya dan konsekuensinya saya pun harus menerima kenyataan sebagai cadangan: latihan yang sama porsinya (kalau bisa disebut latihan) dan jarang dimainkan. Tapi, sekali lagi, bisa nongkrong di pinggir gawang, bangku cadangan tidak ada — red, sudah cukup bagi saya. Motivasi saya lebih kepada bersantai dan bersosialisasi.

Walaupun cadangan yang penting bisa nampang

Bicara sepakbola, ia sudah menjadi semacam candu bagi saya. Tentu bukan sebagai pemain tapi penonton. Apalagi jika AC Milan bermain. Sebenarnya kalau bisa memilih saya lebih suka tidak mengenal sepakbola sama sekali. Sungguh menonton sepakbola membuat saya seringkali tersiksa. Bangun tengah malam dan terjaga beberapa jam dengan jantung berdebar lebih dari biasanya hanya untuk menonton tim kesayangan bermain. Senantiasa memonitor perkembangan tim kesayangan (ini berarti membeli koran atau membaca berita entah dari manapun itu). Dan tentu saja ikut sedih jika tim kesayangan kalah (yang ini harus siap mental menerima ledekan teman). Belum lagi ditambah kantuk buah dari bergadang yang harus ditahan di tengah hari.

Tapi dibalik semua ’siksaan’ diatas ada hal positif yang saya rasakan. Ada semacam gairah ketika menanti
tim kesayangan bermain. Walaupun pertandingan itu tengah malam sekalipun. Serasa malam tidak berlalu begitu saja. Maksud saya ada yang bisa dikerjakan gitu loh. Apalagi bagi yang belum beristri seperti saya ini. Loh apa sih? :)

Category: Sports | Top | 7 comments »

Cara Barnabas

20 February 2006

Anda dapat mengalami kehidupan penuh mukjizat bersama Tuhan. Banyak buku, seminar dan konferensi menghubungkan janji ini dengan berkat yang Tuhan berikan. Berkat dianggap sebagai tanda perkenan dan kasih-Nya. Pertimbangkan ungkapan-ungkapan berikut ini, Anda mungkin sering mendengarnya:

“Jadikan Tuhan bagian dari hidup Anda sehari-hari-dan Ia akan memberkati Anda setiap hari”.

“Anda dapat melihat Tuhan bekerja dalam hidup Anda, hal ini akan terbukti nyata dari segala sesuatu yang diberikan-Nya kepada Anda”

Cara Barnabas

Apakah netode Who Wants to be a Millionaire? dalam mengenal Tuhan ini lebih berfokus pada pemberian atau si Pemberinya? Apakah tantangan untuk mempercayai Tuhan demi berkat yang lebih besar itu lebih memusatkan perhatian kepada Tuhan atau pada hal-hal yang diperbuat-Nya untuk kita?

Pandangan bahwa pemberian menandakan diterimanya seseorang dalam suatu hubungan menjadi suatu tema dalam sebuah produksi film tahun 1975 yang berjudul The Man Who Would Be King. Film berdasarkan cerita karya Rudyard Kipling ini mengisahkan kehidupan Danny Dravor dan Peachy Carnehan, dua tentara bayaran berkebangsaan Inggris yang pergi mengadu nasib ke sebuah negeri antah berantah bernama Kafiristan. Disana mereka menemukan sebuah peradaban yang belum tersentuh dunia luar, sebuah kerajaan yang berlimpah dengan harta karun emas. Penduduk asli negeri itu langsung memproklamirkan kedua orang itu sebagai dewa dan menobatkan Danny sebagai raja. Mereka menghujani Danny dengan berbagai hadiah dan mengabulkan semua harapan serta keinginannya jauh melebihi impiannya. Danny dan Peachy tentu berharap keadaan mereka akan tetap seperti ini selamanya, namun penduduk Kafiristan sadar mereka telah tertipu dan akhirnya membalas dendam.

Kita juga sering berperilaku seperti Danny yang ingin menjadi raja dalam cara kita menghampiri Tuhan. Kita ingin hidup di negeri yang menyediakan pemberian dan berkat yang kita minta. Kita memandang berkat melimpah sebagai tanda bahwa kita masih disukai Tuhan dan manusia.

Read the rest story »

Category: Book Review | Top | Comment »

Selamat Bergabung di Komunitas Blogger Bung Kuri dan Bung Koes!

20 February 2006

Meskipun terlambat saya ingin menyapa rekan-rekan saya yang telah bergabung di komunitas blogger. Pertama Bung Kuri, teman kuliah dan penulis beberapa buku komputer. Yang kedua, teman jadul waktu di kampus yang banyak mahasiswi aduhai, Bung Kusmanto.

Saya ingat slogan sebuah perusahaan pada saat akan implementasi sebuah program komputer kelas enterprise. Bunyinya seperti ini: It’s ain’t life until it live! Semoga saja ikutan di dunia blogger menjadikan hidup seperti di slogan tersebut atau seperti bunyi iklan: Bikin hidup jadi makin hidup! Eh ngga nyambung ya :)

Btw. Selamat datang Bung Kuri dan Bung Koes!


Arti Sebuah Nama

19 January 2006

Sampai setua ini, saya tidak pernah tahu arti nama depan saya: dominggus. Yang saya tahu nama ini adalah nama baptis dan pemberian kakek. Saya beberapa kali menanyakan kepada ibu saya, katanya almarhum kakek pun menurut ibu juga tidak tahu artinya. Pernah mencari di Internet tapi tidak menemukan jawaban yang memuaskan. Barangkali memang nama dominggus ini memang tidak bermakna.

Tapi kok banyak yang memakai nama dominggus ini ya? :roll:

William Shakespeare pernah mempertanyakan arti sebuah nama [ungkapan klise banget ya :mrgreen: ].
What’s in the name? Apa artinya sebuah nama? Wah ya banyak mister! Coba jika si William ini diminta menjawab pertanyaan nya sendiri? Pasti dia tidak mau disebut William Sak Geleme Dewe.

Nama bagi saya bermakna dan penting. Ia diantaranya berisi harapan. Rekanan kantor saya, seorang teknisi PABX, namanya Pak Turip. Saya memang tidak pernah bertanya secara langsung arti namanya, hanya menduga-duga. Mungkin Turip adalah kependekan dari Metu Urip (keluar hidup). Nama yang kampungan?
Wah ya enggak jika menelusuri latar belakang namanya. Siapa sih orang tua yang tidak ingin anaknya keluar ke dunia ini dalam keadaan hidup? Teman di kantor lama namanya Mugi Basuki (semoga selamat), juga sebuah harapan yang mulia dari orang tua.

Suku Indian terkesan asal-asalan dalam memberikan nama. Nama-nama seperti kotsoteka (pemakan sapi), kanza (orang dari angin utara) atau kakwchak (manusia landak) akan terkesan lucu jika diartikan ( Hiawata, kartun yang sering ada dalam Donald Bebek edisi Indonesia, sering menyebut ‘Si Muka Pucat’ bagi orang bule). Tapi betapapun lucu arti namanya, suku Indian sangat menghormati nama yang mereka berikan.

Kembali ke masalah dominggus tadi. Ada beberapa pengalaman yang sedikit menjengkelkan berkaitan nama ini. Satu diantaranya adalah pernah saat ospek jaman STM dulu, seorang guru memanggil saya. Tiba-tiba dia nyeletuk: ‘Loh kamu kok ngga keriting?’ Saya jadi ngeh, guru saya rupanya mengidentikan nama saya dengan ciri umum [mungkin] orang dari daerah tertentu.

Yang paling sering terjadi adalah kesalahan penulisan nama saya. Biasanya kekurangan huruf g. Karenanya saya sering memberi penegasan pada double g ini jika diminta mengeja. Nada suara sedikit saya tinggikan ketika memasuki hurug g :-)

Salah eja ini bagi beberapa konglomerat dan pejabat sangatlah sensitif. Surat yang salah eja akan masuk ke keranjang sampah meskipun alamatnya jelas-jelas benar. Apalagi jika si pengirim adalah kejaksaan atau
kepolisian.

Ketidakkonsistenan pemanggilan nama juga sering terjadi. Dom, Domi (keren kan?), Minggus atau Inggus (ingat double g). Yang ini saya anggap sebagai sapaan pribadi dan bentuk perhatian. Asal, tentu saja, unsur kata panggilan masih terdapat dalam nama dominggus :-)

Trus apa maksud tulisan ini? Hanya tulisan iseng. Maaf kalau Anda merasa membuang waktu membacanya :lol:


« Previous PagesNext Pages »


Fatal error: Call to undefined function: wp_footer() in /home/sloki/user/t76050/sites/dominggus.com/www/wp-content/themes/andreas-02/footer.php on line 6